BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peserta didik merupakan unsur inti kegiata pendidikan, karena itu jika
tidak ada peserta didik, tentunya tidak akan ada kegiatan pendidikan.
Lebih-lebih di era persaingan antar lembaga pendidikan yang begitu ketat
seperti sekarang, sekolah harus berjuang secara sungguh-sungguh untuk
mendapatkan peserta didik. Tidak sedikit lembaga pendidikan yang mati karena
kehabisan peserta didik. Sedangkan untuk mencari peserta didik, belum tentu
dengan mengedarkan brosur dan memasang sepanduk peserta didik akan datang. Hal
ini menggambarkan bahwa dalam kegiatan pendidikan di era persaingan ini,
peserta didik merupakan unsur utama yang dimenej dan dihargai martabatnya tak
jauh berbeda dengan pembeli/konsumen dalam dunia usaha.
Manajemen peserta didik merupakan suatu usaha pengaturan terhadap peserta
didik mulai dari peserta didik itu masuk sekolah sampai dengan mereka lulus
sekolah. Dalam hal ini yang diatur secara langsung oleh pihak sekolah adalah
segi-segi lain yang berkaitan dengan peserta dimaksudkan untuk memberikan
layanan yang sebaik mungkin kepada peserta didik. Suatu sekolah terus
mengembangkan potensi, minat, bakat, dan hobi yang dimiliki oleh peserta didik.
Sekolah bisa memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler untuk mengembangkan potensi, minat, bakat, dan hobi tersebut.
Sedangkan pengertian ekstrakurikuler adalah kegiatan pelajaran yang
diselenggarakan akan diluar jam pelajaran bisa. Kegiatan ini dilaksanakan pagi
hari bagi sekolah-sekolah yang masuk sore. Ekstrakurikuler dimaksudkan untuk
mengembangkan salah satu bidang pelajaran yang diminati oleh sekelompok siswa,
misalnya saja olahraga, kesenia, dan berbagai macam keterampilan serta
kepramukaan.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana Mengidentifikasi Potensi Peserta Didik?
2. Bagaimana Mengelola Kegiatan Organisasi Peerta Didik?
3. Bagaimana Pengaturan Terhadap Organisasi Peserta Didik?
C.
Tujuan
Untuk megatur kegiatan-kegiatan
peserta didik agar menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini dilakukan
agar proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib, dan
teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan
sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.
BAB II
PEMBAHASAN
Robert Presthus
dalam bukunya The Organizational Society (1962) menyatakan bahwa masyarakat
kita merupakan yang terdiri dari organisasi-organisasi.[1]
Pernyataan tersebut menunjukkan betapa organisasi telah menjadi fenomena yang
menonjol dalam kehidupan. Jadi organisasi merupakan kumpulan
orang-orang yang bekerja sama untuk
mencapai tujuan bersama.
Menurut Sondang P. Siagian
organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang
bekerja sama untuk sesuatu tujuan bersama dan terikat secara formal.[2]
Atmosudirdjo berpendapat bahwa organisasi adalah suatu bentuk kerja sama
antara sekelompok orang-orang berdasarkan suatu perjanjian untuk bekerja sama
guna mencapai tujuan yang tertentu. Dari pendapat para ahli di atas dapat kita
simpulkan bahwa organisasi adalah sekelompok orang yang memiliki visi dan misi
sama yang saling berkaitan yang tidak dapat diganggu gugat dengan yang lainnya,
sehinnga organisasi itu dapat berjalan dengan lancar dan sebagaimana mestinya.
Salah satu alat untuk mengetahui adanya potensi di dalam diri potensi
peserta didik melalui Intelegensi(Kecerdasan). Jenis kapabilitas apakah yang dapat dijaring
dari tes intelegensi ini? Tentu saja kapabilitas yang secara umum, yang disebut
dengan kecerdasan tes IQ yang meliputi, kemampuan-kemampuan intelektual kandidat. Jenis kemahiran
yang dijaring, selain meliputi kemampuan verbal, kemampuan berhitung (numerical),
kecepatan perceptual, penalaran induktif, penalaran deduktif,
visualisasi ruang dan ingatan (memori).
Intelek adalah (pikiran) dengan intelek orang dapat menimbang, menguraikan,
menghubung-hubungkan pengertian satu dengan yang lain dan menarik kesimpulan.
Inteligensi adalah (kecerdasan pikiran), dengan inteligensi fungsi pikir dapat
digunakan dengan cepat dan tepat untuk mengatasi suatu situasi/untuk memecahkan
suatu masalah. Dengan lain perkataan inteligensi adalah situasi kecerdasan
berpikir, sifat-sifat perbuatan cerdas (inteligen).
B.
Mengelola Kegiatan Organisasi Peserta Didik
1.
Kegiatan Organisasi EkstraKulikuler
Kata ekstrakurikuler memiliki arti kegiatan tambahan di luar rencana
pelajaran, atau pendidikan tambahan di luar kurikulum. Dengan demikian,
kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan di luar kelas dan di
luar jam pelajaran (kurikulum) untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya
manusia yang dimiliki peserta didik, baik yang berkaitan dengan aplikasi ilmu
pengetahuan yang didapatkannya maupun dalam pengertian khusus untuk membimbing
peserta didik dalam mengembangkan potensi dan bakat yang ada dalam dirinya
melalui kegiatan-kegiatan yang wajib maupun pilihan. Dengan demikian, yang
dimaksud dengan ekstrakurikuler adalah berbagai kegiatan sekolah yang dilakukan
dalam rangka memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat
mengembangkan potensi, minat, bakat, dan hobi yang dimilikinya yang dilakukan
di luar jam pelajaran normal.
Secara etimologis, kepribadian merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris “personality”.
Sedangkan istilah personality secara etimologis berasal dari
Bahasa Latin “person” (kedok) dan “personare” (menembus). Persona biasanya
dipakai oleh para pemain sandiwara pada zaman kuno untuk memerankan satu bentuk
tingkah laku dan karakter pribadi tertentu. Sedangkan
Perkembangan diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh
individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara
sistematis, progresif dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis. Jadi
dengan demikian adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dapat mengembangkan
kepribadian seseorang diri pada peserta didik melalui minat, bakat, dan
kemampuan peserta didik.[3] Minat adalah dalam diri peserta didik
tertarik pada suatu objek atau sesuatu objek yang di inginkan, bakat adalah kemampuan
dasar seseorang untuk belajar dalam tempo yang relatif pendek dibandingkan
orang lain, namun hasilnya justru lebih baik. Bakat merupakan potensi yang
dimiliki oleh seseorang sebagai bawaan sejak lahir, kemampuan adalah kesanggupan
untuk melakukan sesuatu. Kemampuan
bakat meliputi:
a)
Kemampuan
verbal-kebahasaan
b)
Kemampuan
logis-matematis
c)
Kemampuan seni
d)
Kemampuan
tilikan ruang
e)
Kemampuan
badaniah-kinestetik
f)
Kemampuan music
g)
Kemampuan
antarpibadi
h)
Kemampuan kealaman
Pengembangan bakat di sekolah ditempuh dengan dua cara, yaitu dengan
kurikuler dan ekstrakurikuler. Dalam hal ini peserta didik bakat dalam
ekstrakurikuler tidak hanya di dalam kelas saja namun dapat juga di luar kelas.
Sekalipun bakat para siswa saling berbeda, secara garis besar dapat
dikelompokkan ke dalam beberapa klasifikasi utama, yaitu bidang seni, bidang
olah raga dan bidang keterampilan. Dalam bidang seni meliputi: seni lukis, seni
tari, seni musik, seni tari drama dan sejumlah kegiatan ekstetika
lainya. Dalam bidang olahraga: atletik, renang, tenis, sepak bola, volley,
basket, dan lain sebagainya.
a.
Ekstrakurikuler PAI
Suatu kegiatan
pembelajaran pendidikan Agama Islam yang dilakukan di luar jam pelajaran intrakurikuler,
yang dilaksanakan di sekolah/madrasah atau di luar sekolah/madrasah untuk lebih
memperluas pengetahuan, wawasan, kemampuan, meningkatkan, dan menerapkan nilai
pengetahuan dan kemampuan yang telah di pelajari dalam kegiatan intrakurikuler.
Adapun jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler
pendidikan agama islam disekolah antara lain yakni:
a.
Pesantren kilat (SANLAT)
Pesantren kilat
biasanya dilakukan pada saat liburan sekolah dengan waktu yang relative singkat
di bulan ramadhan, durasi atau waktu yang ditentukan selama 3, 5, dan 7 hari
tergantung pada situasi dan kebutuhan kegiatan tersebut.tujuan pesantren kilat
sebagai kegiatan ekstrakurikuler PAI ditujukan dan diarahkan pada aspek pemahaman,
pengalaman, pembiasaan, dan pengayaan terhadap materi Pendidikan Agama Islam
maka dari itu proses pembelajaranya pada aspek afektif dan psikomotorik.
b.
Pembiasaan Akhlak Mulia (SALAM)
Sebagai kegiatan ekstrakurikuler PAI di sekolah, di rumah, dan masyarakat
dengan pembiasaan yang diperintah dan ditugaskan oleh guru kepada peserta
didik. Bertujuan agar peserta didik terbiasa dengan pengalaman nilai-nilai
keagamaan sehingga terbentuk karakter (character building). Ruang lingkup pembiasaan yang dapat dilakukan antara lain:
1.
Shalat Berjamaah
2.
Membaca Al-Qur’an mengawali dan mengakhiri suatu pembelajaran.
3.
Membaca do’a mengawali dan mengakhiri suatu pembelajaran.
4.
Mengucap dan menjawab salam
5. Menjaga kesehatan, kebersihan dan lainnya.
c.
Tuntas Baca Tulis Al-Qur’an (TBTQ)
d.
Ibadah Ramadhan (IRAMA)
Salah satu
kegiatan ekstrakurikuler PAI yaitu serangkaian kegiatan yang dilakuakn selama
bulan ramadhan dari mulai malam pertama saat shalat tarawih sampai dengan acara
halal bihalal yang dilaksanakan dalam nuansa perayaan isul fitri di bulan
syawal.tujuannya pada prinsipnya untuk meningkatkan kualitas keimanan,
ketakwaan kepada Allah SWT, dan akhlak mulia bagi peserta didik melalui
bimbingan, pelatihan, dan pembiasaan ibadah.
e.
Wisata Rohani (WISROH)
f.
Kegiatan Rohani Islam (ROHIS)
Kegiatan ROHIS
bertujuan untuk:
1. Memberikan sarana pembinaan, pelatihan, dan pendalaman pendidikan agama
islam bagi peserta didik
2. Membentuk kepribadian muslim yang representative dalam pengupaya kaderisasi
dakwah islam yang berkesinambungan, sehingga syair islam terus berkembang.
3. Memperkokoh keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
4. Memberikan dan menambahkan wawasan keagamaan peserta didik semakin
meningkat.
g. Pekan Keterampilan dan Seni (PENTAS) PAI
Sarana kompetisi peserta didik dalam berbagai jenis keterampilan agama yang
bernuansa seni atau kesenian. Tujuannya tentu saja dimaksudkan untuk pengembangan
bakat, minat, dan potensi seni yang dimiliki peserta didik. Selain itu
berfungsi sebagai salah satu tolak ukur kompetensi dan prestasi peserta didik
dalam bidang PAI dan wahana Syiar islam, juga memotivasi peserta didik agar
lebih bergairah mempelajari nilai-nilai ajaran islam. Adapun kegiatan meliputi:
Musabaqoh Tilawatil Qur’an, kaligrafi, hafalan surat pendek, pidato, dan lain
sebagainya.
h. Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)
Peringatan hari besar islam sebagai upaya meningkat kembali terhadap suatu
peristiwa yang terjadi pada masa lalu untuk diambil hikmah dan manfaat yang
terkandung di dalamnya. Kegiatannya meliputi: tahun baru hijriyah, Maulid Nabi
Muhammad SAW, Isra’ Mikraj, Peringatan Nuzulul Qur’an.
Merencanakan kegiatan ekstrakurikuler PAI di
sekolah hendaknya dapat menjawab empat masalah sebagai berikut:
a. Apakah tujuan-tujuan PAI di sekolah hendaknya dapat menjawab dan jenisnya.
b. Apakah pengalaman-pengalaman belajar PAI yang hendaknya di utamakan guna
mencapai tujuan-tujuan tersebut.
c. Bagaimana cara menyusun pengalaman belajar agar terlaksana pengajaran yang
efektif
d. Bagaimana mengevaluasi efektif tidaknya pengalaman belajar PAI tersebut.
Mendesain penyelenggaraan kegiatan ektrakulikuler PAI di sekolah mencakup
sejumlah unsure yaitu: Tujuan, Materi, Metode dan Evaluasi. Keempat tersebut
dipahami oleh pengelola kegiatan ekstrakulikuler. Tentu saja tidak hanya di
dasarkan pada desain tertentu, tetapi lebih bersifat komperhensif sebab pada
jenis kegiatan ekstrakulikuler yang merupakan pengembangan dan pengayaan materi
mungkin lebih dekat didasarkan pada desain bidang ilmu, tetapi pada kegiatan
ekstrakulikuler PAI yang bersifat pentas seni lebih diorientasikan pada
pengembangan minat peserta didik.
Ada beberapa prinsip-prinsip yang terdapat ekstrakulikuler PAI di sekolah
yaitu:
a.
Prinsip Relevansi
Pengelolaan
ekstrakulikuler yang dilaksanakan tetap memperhatikan relevansi kegiatan
ekstrakulikuler dengan kurikulum PAI di sekolah sebab pada prinsipnya
pengelolaan ekstrakulikuler tersebut yang dimaksud agar tujuan dan kompetensi
Pendidikan agama islam dapat dicapai sesuai standart yang diharapkan.
b.
Prinsip Fleksibilitas
Pengelolaan ekstrakulikuler harus dapat mempersiapkan hidup peserta didik
sekarang dan akan datang dengan lingkungan dan tempat yang berbeda.
c.
Prinsip Kontinuitas
Pengelolaan ekstrakulikuler harus berkesinambungan sebab perkembangan dan
proses pembelajaran peserta didik berlangsung secara terus-menerus dan tanpa
henti dan terputus-putus.
d.
Prinsip Praktis
Prinsip praktis artinya, ekstrakulikuler PAI di sekolah harus mudah
dilaksanakan dan biaya yang murah.
e.
Prinsip Efektivitas
Pengelolaan ekstrakulikuler tidak dapat dilepaskan dan penjabaran dan
pengembangan suatu kurikulum itu sendiri.
2. Kegiatan Organisasi Intra Sekolah (strukture)
Organisasi intra sekolah (disingkat OSIS) adalah suatu organisasi yang berada di tingkat sekolah di Indonesia
yang dimulai dari sekolah menengah yaitu sekolah menengah pertama (SMP) dan
sekolah menengah atas (SMA). OSIS diurus dan dikelolah oleh peserta didik yang
terpili menjadi pengurus OSIS. Biasanya organisasi ini memiliki seorang
pembimbing dari guru yang dipilih oleh pihak sekolah. Anggota OSIS adalah
seluruh peserta didik yang berada pada suatu sekolah tempat OSIS itu berada.
Seluruh anggota OSIS berhak untuk memilih calonnya untuk kemudian menjadi
pengurus OSIS.
a.
Wawasan wisata mandala
Dengan
memperhatikan kondisi sekolah dan masyarakat sekolah dan masyarakat dewasa ini
yang umumnya masih dalam taraf perkembangan, maka upaya pembinaan kepesertadidikan
perlu di selenggarakan untuk menunjang perwujudan sekolah sebagai wawasan
wisata mandala. Berdasarkan surat Direktur Jenderal pendidikan dasar dan
menengah Nomer: 13090/CI.84 tanggal 1 Oktober 1984 perihal wawasan wisata
mandalah sebagai sarana ketahanan sekolah, maka dalam rangka meningkatkan
pembinaan ketahanan sekolah bagi sekolah-sekolah di lingkungan pembinaan
Direktur Jenderal pendidikan dasar dan menengah, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, menerapkan wawasan wisata mandala yang merupakan konsepsi yang
mengandung anggapan-anggapan sebagai berikut:
a.
Sekolah merupakan wisata mandala (lingkungan
pendidikan) sehingga tidak boleh digunakan untuk tujuan-tujuan diluar bidang
pendidikan.
b.
Kepala sekolah mempunyai wewenang dan tanggung
jawab penuh untuk menyelenggarakan seluruh proses pendidikan di dalam
lingkungan sekolahnya, yang harus berdasarkan pancasila dan bertujuan untuk:
1.
Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang
Mahaesa.
2.
Meningkatkan kecerdasan dan keterampilan.
3.
Mempertinggi budi pekerti.
4.
Memperkuat kepribadian.
5.
Mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air.
c.
Antara guru dengan orang tua peserta didik
harus ada saling pengertian dan kerja sama yang baik untuk tugas pendidikan.[4]
d.
Para guru, di dalam maupun di luar lingkungan
sekolah, harus senantiasa menjunjung tinggi martabat dan citra guru sebagai
manusia yang dapat digugu (dipercaya) dan ditiru, betapa pun sulitnya keadaan
yang melingkunginya.
e.
Sekolah harus bertumbuh pada masyarakat
sekitarnya, namun harus mencegah masuknya sikap dan perbuatan yang sadar atau
tidak, dapat menimbulkan pertentangan antara warga.
Untuk mengimplementasikan wawasan wisata mandala perlu
diciptakan suatu situasi tempat peserta didik dapat menikmati suasana yang
harmonis dan menimbulkan kecintaan terhadap sekolahnya, sehinggan proses
belajar-mengajar, kegiatan kokurikuler, dan ekstrakurikuler dapat berlangsung
dengan mantap. Upaya untuk mewujudkan wawasan wisata mandala antara lain dengan
menciptkan sekolah sebagai masyarakat belajar, pembinaan Organisasi Siswa Intra
Sekolah (OSIS), kegiatan kulikuler, kokulikuler, dan ekstrakulikuler, serta
menciptakan kondisi kemampuan dan ketangguhan yakni memiliki tingkat keamanan,
kebersihan, ketertiban, keindahan, dan kekeluargaan yang mantap.
C.
Pengaturan Terhadap Organisasi Peserta Didik
1.
Kegiatan Organisasi EkstraKulikuler
Adapun tujuan
dari kegiatan ekstrakurikuler PAI di sekolah yaitu: Memperdalam dan memperluas
pengetahuan dan wawasan keagamaan peserta didik, mendorong peserta didik agar
taat menjalankan agamanya dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan agama sebagai
landasan akhlak mulia dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara, membangun sikap mental peserta didik untuk bersikap
dan berperilaku jujur, amanah, disiplin, dan bekerja keras, serta mewujudkan
kerukunan antar umat beragama.[5]
a.
Langkah-langkah mendesain penyelenggara
kegiatan ekstrakulikuler PAI di sekolah.
Kegiatan penyelengaraan hendaknya dapat memberikan jawaban terhadap 6
pertanyaan yaitu:
a) What (apa), menanyakan tujuan, rencana, dan kegiatan yang dilaksanakan.
b) Why (mengapa), menanyakan sebab-sebab mengapa jenis kegiatan tersebut harus
dilaksanakan.
c) Where (di mana), berkaitan dengan lokasi atau tempat rencana itu di
laksanakan.
d) When (kapan), menanyakan hal yang berhubungan dengan waktu itu
dilaksanakan.
e) Who (Siapa), menanyakan berhubungan dengan orang yang akan bertanggung
jawab.
f) How (bagaimana), bagaimana cara melaksanakan kegiatan-kegiatan itu.
b. Pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler PAI di sekolah
Eksistensi ekstrakulikuler PAI di sekolah dapat menjadi daya tarik
masyarakat yang akan menitipkan peserta didik untuk belajar di sekolah tempat ekstrakulikuler
itu dilaksanakan dan dikembangkan. Sebagai salah satu bentuk kegiatan
pembelajaran, ekstrakulikuler PAI diorientasikan pada pengembangan dan
penguatan iman dan takwa peserta didik secara integral, terpola dan
berkesinambungan. Untuk mencapai hasil yang optimal perlu dilakukan duatahap
strategi yang perlu ditempuh yaitu:
1)
Tahap Persiapan
a. Mengenalkan jenis-jenis ekstrakulikuler PAI beserta kegiatan-kegiatan
kepada peserta didik
b. Koordinasi kegiatan dengan kepala sekolah, wakil kepala, wali kelas, ketua
program, keahlian, dan guru.
2)
Tahap Pelaksanaan
a. Menentukan strategi pembelajaran/pelatihan/lomba.
Strategi atau teknik pelatihan yang penting dikembangkan dalam pelaksanaan
ekstrakulikuler PAI ialah strategi (fun, fresh, focus) sehingga tercipta
rangsangan untuk memberikan umpan balik dalam setiap kegiatan ekstrakulikuler
PAI.
b. Membudayakan belajar sebagai suatu kebutuhan.
Kiat untuk mendisiplinkan peserta didik agar gemar membaca adalah dengan
cara memotivasi diri dan menganggap membaca merupakan bagian dari Tholabul
‘ilmi yang diwajibkan oleh Allah SWT.
c. Mengatur keseimbangan antara rohani, tubuh dan pikiran.
Manusia memiliki 3 unsur tersebut tanpa harus melebihkan unsure satu dengan
yang lain, aktivitas ibadah seperti shalat berjamaah, dzikir, doa dan tilawah
senantiasa dilakukan. Oleh tubuh juga perlu diperhatikan, tidak memaksakan diri
dalam beraktivitas dan banyak melakukan kegiatan-kegiatan variatif.
d. Mengembangkan daur belajar dari pengalaman berstruktur
Ada 5 langkah daur belajar pengalaman berstruktur, yaitu: 1) melakukan
proses yaitu, melakukan permainan atau melaksanakan tugas apapun yang mempunyai
tujuan nyata, 2) mengungkapkan kemampuan melihat kembali dan mengungkapkan apa
yang terjadi. 3) menganalisis yaitu, melihat hubungan kegagalan atau
keberhasilan dengan perilaku, kata-kata, ungkapan perasaan yang tampak atau
bahkan yang sembunyi. 4) menyimpulkan bahwa keberhasilan atau kegagalan
kelompok merupakan kontribusi dari anggota-anggota kelompok, 5) langkah
terakhir penerapan yaitu, melakukan kesimpulan-kesimpulan dari pengalaman.
2.
Kegiatan Organisasi Intra Sekolah
Secara umum Organisasi adalah kelompok kerja sama antara pribadi yang
diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi dalam hal ini dimaksudkan
sebagai satuan kelompok kerja sama peserta didik yang di bentuk dalam usaha
mencapai tujuan bersama, yaitu mendukung terwujudnya pembinaan
kepersertadidikan. Peserta didik adalah peserta didik pada satuan pendidikan
dasar dan menengah. Intra berarti terletak didalam dan diantara. Sehingga suatu
organisasi peserta didik ada di dalam dan di lingkungan sekolah yang
bersangkutan. Sekolah adalah satuan pendidikan tempat menyelenggarakan kegiatan
belajar-mengajar, yang dalam hal ini sekolah dasar dan sekolah menengah atau
sekolah/madrasah yang sederajat.
OSIS adalah satu-satunya wadah organisasi peserta didik yang sah di
sekolah. Oleh karena itu setiap sekolah wajib membentuk Oraganisasi Siswa Intra
Sekolah (OSIS), yang tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan OSIS di
sekolah lain dan tidak menjadi bagian/alat dari organisasi lain yang ada di
luar sekolah.
Dalam rangka pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan, khusunya dibidang
pembinaan kepesertadidikan, arti yang terkandung lebih jauh dalam pengertian
OSIS adalah sebagai salah satu dari empat jalur yang lain yaitu: latihan
kepemimpinan, ekstrakulikuler, dan wawasan wisata mandala.
Apabila OSIS dipandang sebagai suatu sistem, berarti OSIS sebagai tempat kehidupan
berkelompok peserta didik yang berkerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam hal ini OSIS dipandang sebagai suatu sistem, di mana sekumpulan para
peserta didik mengadakan koordinasi dalam upaya menciptakan suatu organisasi
yang mampu mencapai tujuan.
Didalam sebuah organisasi intra sekolah didalamnya terdapat struktur
strukturnya. Pada dasarnya setiap OSIS di satu sekolah memiliki struktur
organisasi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Namun, biasanya struktur keorganisasian dalam OSIS terdiri atas :
a. Ketua Pembina (biasanya kepala sekolah)
b. Wakil ketua Pembina (biasanya wakil kepala sekolah)
c. Pembina (biasanya guru yang ditunjuk oleh sekolah)
d.
Ketua Umum
e.
Wakil Ketua
f.
Wakil Ketua I
g.
Wakil Ketua II
h.
Sekretaris Umum
i.
Sekretaris I
j.
Sekretaris II
k.
Bendahara
l.
Wakil Bendahara
Koordinator Bidang (Korbid)
dan Seksi Bidang (Sekbid) sebagai pembantu Korbid dalam mengurus setiap
kegiatan peserta didik yang berhubungan dengan tanggung jawab bidangnya.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kata ekstrakurikuler memiliki arti kegiatan
tambahan di luar rencana pelajaran, atau pendidikan tambahan di luar kurikulum.
Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan di
luar kelas dan di luar jam pelajaran (kurikulum) untuk menumbuh kembangkan
potensi sumber daya manusia yang dimiliki peserta didik, baik yang berkaitan
dengan aplikasi ilmu pengetahuan yang didapatkannya maupun dalam pengertian
khusus untuk membimbing peserta didik dalam mengembangkan potensi dan bakat
yang ada dalam dirinya melalui kegiatan-kegiatan yang wajib maupun pilihan.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan ekstrakurikuler adalah berbagai kegiatan
sekolah yang dilakukan dalam rangka memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk dapat mengembangkan potensi, minat, bakat, dan hobi yang dimilikinya yang
dilakukan di luar jam pelajaran normal.
Organisasi intra sekolah (disingkat OSIS)
adalah suatu organisasi yang berada di
tingkat sekolah di Indonesia yang dimulai dari sekolah menengah yaitu sekolah
menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).
B.
Saran
Semoga para
pembaca makalah bisa mencerna ilmu dari makalah tentang judul yang di atas, dan
kami mengharapkan saran dan kritik agar bisa membuat makalah yang lebih
sempurna lagi.
[1] Uhar Suharsaputra, Administrasi Pendidikan ( Bandung : Refika Aditama, 2013 ), h.26
[2] Ibid,… h.27
[3] http://phaninurcahyani.blogspot.co.id/2014/11/pengembangan-kepribadian-siswa-di.html.
Diakses pada 1 april 2016 jam
13.27
[5] Ibid,… h. 146-147
Tidak ada komentar:
Posting Komentar