SAHABAT
Sahabat itu seperti teman sehidup
semati yang mengerti kelebihan dan kekurangan kita, saat kita senang mereka
merasakan, saat kita ada masalah dengan yang lain selalu memberi solusi, saat
kita terjatuh selalu memberi kita support itu yang aku rasakan pada kedua
sahabatku dari MtsN sampai sekarang dan dari MAN sampai sekarang juga.
Sahabat pertamaku
Namanya Widya Nur Aini. Dia
sahabatku sejak duduk di bangku SMP sampai sekarang tepatnya kelas 9. Nah awal
aku ketemu dia itu di kelas widya itu duduk termenung menyendiri dan memisah
dari yang lain. Ya memang aku tau saat itu hanya widya yang pindahan dari kelas
B ke kelas D. Namun seiringnya berjalannya waktu widya mengajakku untuk jajan
bareng ke kantin dan semenjak itu aku dan widya sering sekali tengkar-tengkar
kecil karena masalah yang gak jelas juntrungnya. Dan pernah suatu ketika aku
sakit terbaring di RSHU sedang kesakitan dan parah banget widya menjenguk ku di
rumah sakit dan menghiburku dan menyemangatiku agar aku cepat sembuh dan
kembali bersekolah. Aku bersyukur punya sahabat seperti widya yang kocak,
menyenangkan, seru, asyik, gak jaim, dan banyak lainnya. Ya meski kita
bersahabat namun tidak terlalu sering kita komunikasi, sekali komunikasi aku
selalu memanggil dia dengan sebutan crut (panggilanku ke widya). Namun kita tak
pernah putus hubungan. Paling kalau tidak berkomunikasi hanya 4 bulan. Dan kalau
berkomunikasi tak segan-segan aku yang ke rumahnya untuk bermain, lagian orang
tua kami sudah saling kenal layaknya orang yang mempunyai hubungan pacaran. Hahahaha.....
ngaco.
Sahabat keduaku namanya Nuzuliya Rohma
Qurrota Ag’yun, dia adalah sosok yang menurutku lebih dewasa pemikirannya dan
lebih matang. Awal aku mengenal agyun waktu aku duduk di MAN kelas 2, kita
sebangku. Memang aku dulu males yang namanya belajar, namun aku diingatkan atau
di beri semnagat oleh agyun buat terus belajar. Pernah suatu ketika aku punya
PR matematika, di situ agyun gak bisa mengerjakan. Aku di paksa untung
mengajarinya, namun tau sendiri aku anaknya usil dan pingin menggoda agyun agar
marah. Lalu aku berkata ”gak mau aku ngajari kamu, males berani bayar aku
berapa?” kata agyun ”ayolah syif, awas ya kalau kamu minta ajari aku ekonomi
gak tak ajari!”. haha.. aku mengingat masa-masa senang, susah, sedih, sampai
aku punya masalah berat aku bercerita hanya pada agyun dan widya.
Sahabat sosok yang mengerti kelebihan dan kekuranganmu, aku merasakan
masa-masa sulit dengan mereka. Mereka akan tau kenapa aku selalu tiba-tiba ke
rumah mereka dengan secara tiba-tiba karena aku kangen pada mereka. Jujur aku
melihat mereka senang dengan yang lain hati ini terasa tidak terima, namun ada
seseorang yang mengatakan bahwa ”jika memang dia benar-benar sahabatmu maka
biarlah mereka berteman dengan yang lain, dia akan tau kapan akan kembali pulang.”
Terima kasih sahabatku karena kau yang selalu ada saat aku terpuruk dan
terjatuh, berbeda dengan yang lain yang hanya pada saat aku senang saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar