Bermula pada tahun 2015 yang dimana saya kelas 3 MAN Surabaya yang
sedang menghadapi ujian 4 bulan lagi. Namun, setiap saya ingin menghadapi UNAS
meski SMP atau SMA ataupun sedang kuliah ini selalu ada saja penyakit yang
menghampiri. Waktu kelas 3 MAN saya merasakan keadaan yang tidak seperti
biasanya, saya merasakan perut terasa mual dan kalau mau makan itu seperti
ingin muntah.
Setelah itu saya setiap beberapa jam di sekolah saya selalu pulang
lebih awal karena badan saya sering merasakan yang tidak enak, lalu mami saya
membawa ke rumah sakit untuk di periksa kepada dokter heru. Teryata saya
terkena asam lambung yang cukup mengerikan buat saya, karena dengan kondisi
saya yang tambah kurus, setiap makan juga selalu muntah dan banyak cairan yang
di muntahkan apalagi kencingnya berbau asam yang menurut saya baunya tak ingin
saya hirup waktu itu.
Setelah di periksa oleh dokter heru untuk rawat inap atau bias disebut
dunia medis MRI/MRC untuk menurunkan asam lambung yang tinggi pada saya. 2
minggu saya di rawat di rumah sakit lalu kembali ke rumah, karena saya ingin
mengikuti try out, les, dan juga ujian sekolah. Pada waktu saya detik-detik
ujian sekolah disitu saya mulai kambuh lagi asam lambung yang menurut saya
tinggi hingga badan saya setiap pagi panas dan malam itu seperti orang normal. Namun
saya selesai ujian sekolah saya selalu di antar jemput oleh mami meski saya
tetap masih ada les tambahan sekolah tapi tetap saya pulang karena keadaan saya
yang ak memungkinkan untuk melanjutkan kegiatan.
Waktu terus berjalan jika sakit saya asam lambung kambuh 1 minggu
di rumah 2 minggu di rumah sakit, hingga guru-guru, sahabat, teman-teman,
hingga saudara pun hafal dengan diagnosis yang sama. Karena saya suka sekali
dengan sambal yang begitu pedas. Saat UNAS saya menguatkan diri untuk tetap
masuk, pada saat malam hari sebelum besok UNAS saya sedang sakit demam tinggi
dan merasa muntah cairan hingga setengah ember, rasanya lemas tubuh ini namun
apalah daya untuk tetap belajar karena besok adalah UNAS.
Keesokan harinya UNAS Hari Pertama dilaksanakan saya setiap pagi
hanya minum susu lalu jam istirahat saya makan bekal dari mami yang saya makan
bersama sahabat saya ag’yun di kelas. Namun saat itu nafsu makan sedikit meningkat
yang tak seperti biasanya, setelah jam istirahat usai saya melanjutkan mata
pelajaran kedua yang di UNASkan. Saya sampai di rumah selalu setiap malam demam
tinggi dan merasa muntah cairan hingga setengah ember, rasanya lemas.
Setelah UNAS selesai saya dan mami periksa ke dokter heru untuk berobat,
namun saat itu dokter heru bertanya pada saya “setelah lulus sekolah mau
melanjutkan kemana?” lalu saya jawab “saya inginnya lanjut keperawat dok, entah
kenapa saya ingin menjadi perawat dok.”, lalu dokter heru berkata “boleh saja
syifa kamu menjadi perawat tapi kamu harus tau dengan riwayatmu dan jam kerja
perawat itu sangatlah banyak, apakah fisikmu itu kuat akan hal itu?”, saya hanya
berdiam dan memikirkan kata dokter heru. Setelah itu saya membicarakan ini kepada
kedua orang tuaku tentang perguruan tinggi dan juga jurusannya.
Waktu pembicaraan tentang jurusan yang aku pilih dan universitas
yang aku inginkan selalu ada salah paham persepsi yang di inginkan, misalnya
hari selasa waktu tes SBMPTN saya daftar dengan jurusan bahasa Indonesia dan
juga tata boga. Saya meminta pendapat pada kedua orang tuaku bagaimana? Namu mami
setuju dengan jurusan yang saya pilih bahasa Indonesia karena itu guru yang
diinginkan oleh mami, namun tidak dengan ayahku yang menginginkan aku masuk
politik. Namun aku menolak karena aku memilih dasar keinginanku di tata boga
menaruh harapan yang besar masuk dan ingin menjadi chef yang go international.
Setelah tes SBMPTN ada pendaftaran seleksi UMPTKIN yang di
selenggarakan dari kemenag untuk sekolah yang ikatan KEMENAG. Tes UMPTKIN sama
halnya seperti SBMPTN yang membedakan hanya UMPTKIN berbasis sekolah UIN se-
Indonesia, namun SBMPTN untuk semua Universitas tetapi tidak ada jurusan yang
islami. Sebenarnya saya tak ingin kuliah di UIN tapi saya sebenarnya ingin
kuliah dengan jurusan tata boga atau perawat. Saat pendaftaran itu harus
memilih 2 jurusan, saya menawarkan kepada ayah dan mami saya untuk jurusan itu,
kalau mami saya pokoknya kamu jadi guru sedangkan ayah pokoknya kamu masuk
dunia politik. Pada saat itu saya memilih Hukum tata Negara dan Manajemen
pendidikan Islam.
Untuk menunggu pengumuman dari SBMPTN, SNMPTN, SPANPTKIN, dan
UMPTKIN, saya mendftar di UNUSA dengan jurusan Manajemen. Waktu itu saya sudah
daftar ulang yang di antar oleh ayah dan akan mendapatkan jas almamater dari
UNUSA. Dua hari kemudian saya mendapatkan info tentang pengumuman SBMPTN namun
hasilnya saya tidak lolos dalam tes itu, saya merasa sedih, kecewa, dan marah. Dengan
hasil saya tidak lolos SBMPTN saya berfikir kalau saya lebih baik di UNUSA
saja, namun keesokan harinya pengumuman dari UMPTKIN yang menyatakan saya lolos
dengan jurusan Manajemen Pendidikan Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Setelah pengumuman UMPTKIN saya ke kampus UNUSA dengan mami untuk
mengambil uang kembalian 30%. Orang tuaku bersyukur atas di terimanya saya di
UINSA. Setelah ke UNUSA saya ke UINSA untuk registrasi tentang biaya UKT yang
ditentukan dengan struk listrik, pbb, foto rumah, dan lain-lain. Di situ
awalnya saya di terima dengan hati yang setengah bahagia karena dapat kuliah
dan setengah kecewa karena mimpiku tak tercpai masuk jurusan yang aku inginkan.
Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, dan
bulan berganti tahun. Setelah sekian lama saya masuk di UINSA dengan jurusan
MPI saya merasa nyaman disitu dan lama kelamaan saya menyadari bahwa menjadi
guru suatu saat nanti menjadi fun. Akan mengerti bagaimana menghadapi anak-anak
di semua umur sebelum saya sendiri akan menjadiguru untuk anak-anakku suatu
saat nanti.