Kamis, 28 Desember 2017

Awal menjadi Mahasiswa



Bermula pada tahun 2015 yang dimana saya kelas 3 MAN Surabaya yang sedang menghadapi ujian 4 bulan lagi. Namun, setiap saya ingin menghadapi UNAS meski SMP atau SMA ataupun sedang kuliah ini selalu ada saja penyakit yang menghampiri. Waktu kelas 3 MAN saya merasakan keadaan yang tidak seperti biasanya, saya merasakan perut terasa mual dan kalau mau makan itu seperti ingin muntah.
Setelah itu saya setiap beberapa jam di sekolah saya selalu pulang lebih awal karena badan saya sering merasakan yang tidak enak, lalu mami saya membawa ke rumah sakit untuk di periksa kepada dokter heru. Teryata saya terkena asam lambung yang cukup mengerikan buat saya, karena dengan kondisi saya yang tambah kurus, setiap makan juga selalu muntah dan banyak cairan yang di muntahkan apalagi kencingnya berbau asam yang menurut saya baunya tak ingin saya hirup waktu itu.
Setelah di periksa oleh dokter heru untuk rawat inap atau bias disebut dunia medis MRI/MRC untuk menurunkan asam lambung yang tinggi pada saya. 2 minggu saya di rawat di rumah sakit lalu kembali ke rumah, karena saya ingin mengikuti try out, les, dan juga ujian sekolah. Pada waktu saya detik-detik ujian sekolah disitu saya mulai kambuh lagi asam lambung yang menurut saya tinggi hingga badan saya setiap pagi panas dan malam itu seperti orang normal. Namun saya selesai ujian sekolah saya selalu di antar jemput oleh mami meski saya tetap masih ada les tambahan sekolah tapi tetap saya pulang karena keadaan saya yang ak memungkinkan untuk melanjutkan kegiatan.
Waktu terus berjalan jika sakit saya asam lambung kambuh 1 minggu di rumah 2 minggu di rumah sakit, hingga guru-guru, sahabat, teman-teman, hingga saudara pun hafal dengan diagnosis yang sama. Karena saya suka sekali dengan sambal yang begitu pedas. Saat UNAS saya menguatkan diri untuk tetap masuk, pada saat malam hari sebelum besok UNAS saya sedang sakit demam tinggi dan merasa muntah cairan hingga setengah ember, rasanya lemas tubuh ini namun apalah daya untuk tetap belajar karena besok adalah UNAS.
Keesokan harinya UNAS Hari Pertama dilaksanakan saya setiap pagi hanya minum susu lalu jam istirahat saya makan bekal dari mami yang saya makan bersama sahabat saya ag’yun di kelas. Namun saat itu nafsu makan sedikit meningkat yang tak seperti biasanya, setelah jam istirahat usai saya melanjutkan mata pelajaran kedua yang di UNASkan. Saya sampai di rumah selalu setiap malam demam tinggi dan merasa muntah cairan hingga setengah ember, rasanya lemas.
Setelah UNAS selesai saya dan mami periksa ke dokter heru untuk berobat, namun saat itu dokter heru bertanya pada saya “setelah lulus sekolah mau melanjutkan kemana?” lalu saya jawab “saya inginnya lanjut keperawat dok, entah kenapa saya ingin menjadi perawat dok.”, lalu dokter heru berkata “boleh saja syifa kamu menjadi perawat tapi kamu harus tau dengan riwayatmu dan jam kerja perawat itu sangatlah banyak, apakah fisikmu itu kuat akan hal itu?”, saya hanya berdiam dan memikirkan kata dokter heru. Setelah itu saya membicarakan ini kepada kedua orang tuaku tentang perguruan tinggi dan juga jurusannya.
Waktu pembicaraan tentang jurusan yang aku pilih dan universitas yang aku inginkan selalu ada salah paham persepsi yang di inginkan, misalnya hari selasa waktu tes SBMPTN saya daftar dengan jurusan bahasa Indonesia dan juga tata boga. Saya meminta pendapat pada kedua orang tuaku bagaimana? Namu mami setuju dengan jurusan yang saya pilih bahasa Indonesia karena itu guru yang diinginkan oleh mami, namun tidak dengan ayahku yang menginginkan aku masuk politik. Namun aku menolak karena aku memilih dasar keinginanku di tata boga menaruh harapan yang besar masuk dan ingin menjadi chef yang go international.
Setelah tes SBMPTN ada pendaftaran seleksi UMPTKIN yang di selenggarakan dari kemenag untuk sekolah yang ikatan KEMENAG. Tes UMPTKIN sama halnya seperti SBMPTN yang membedakan hanya UMPTKIN berbasis sekolah UIN se- Indonesia, namun SBMPTN untuk semua Universitas tetapi tidak ada jurusan yang islami. Sebenarnya saya tak ingin kuliah di UIN tapi saya sebenarnya ingin kuliah dengan jurusan tata boga atau perawat. Saat pendaftaran itu harus memilih 2 jurusan, saya menawarkan kepada ayah dan mami saya untuk jurusan itu, kalau mami saya pokoknya kamu jadi guru sedangkan ayah pokoknya kamu masuk dunia politik. Pada saat itu saya memilih Hukum tata Negara dan Manajemen pendidikan Islam.
Untuk menunggu pengumuman dari SBMPTN, SNMPTN, SPANPTKIN, dan UMPTKIN, saya mendftar di UNUSA dengan jurusan Manajemen. Waktu itu saya sudah daftar ulang yang di antar oleh ayah dan akan mendapatkan jas almamater dari UNUSA. Dua hari kemudian saya mendapatkan info tentang pengumuman SBMPTN namun hasilnya saya tidak lolos dalam tes itu, saya merasa sedih, kecewa, dan marah. Dengan hasil saya tidak lolos SBMPTN saya berfikir kalau saya lebih baik di UNUSA saja, namun keesokan harinya pengumuman dari UMPTKIN yang menyatakan saya lolos dengan jurusan Manajemen Pendidikan Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Setelah pengumuman UMPTKIN saya ke kampus UNUSA dengan mami untuk mengambil uang kembalian 30%. Orang tuaku bersyukur atas di terimanya saya di UINSA. Setelah ke UNUSA saya ke UINSA untuk registrasi tentang biaya UKT yang ditentukan dengan struk listrik, pbb, foto rumah, dan lain-lain. Di situ awalnya saya di terima dengan hati yang setengah bahagia karena dapat kuliah dan setengah kecewa karena mimpiku tak tercpai masuk jurusan yang aku inginkan.
Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Setelah sekian lama saya masuk di UINSA dengan jurusan MPI saya merasa nyaman disitu dan lama kelamaan saya menyadari bahwa menjadi guru suatu saat nanti menjadi fun. Akan mengerti bagaimana menghadapi anak-anak di semua umur sebelum saya sendiri akan menjadiguru untuk anak-anakku suatu saat nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar